Trading dan Investasi

ad1

Iklan Gratis

Cerita Ngentot Tante Yeni yang Selalu Berlendir 1

Cerita Ngentot Tante Yeni yang Selalu Berlendir 1

   Aopok.com - Tante Yeni seorang keturunan chinese dan jawa. Orangnya mungil dengan tinggi 155 cm dan berat 50 kg. Cukup seksi untuk seorang berusia 35 dengan tiga orang anak. Payudaranya berukuran 36A. Rambutnya lurus dan berkacamata minus. Tante Yeni cukup cantik karena sebagai pengusaha dia sangat memperhatikan penampilan dan kebugaran tubuhnya. Orangnya teliti, tegas, agak acuh dan tipikal wanita yang mandiri

Setelah aku menyelesaikan program mini marketnya, aku mengantarkannya ke rumahnya yang hanya berjarak sepuluh menit dari rumahku. Tante Yeni tidak ada dan di rumahnya hanya ada si bungsu Cynthia dan pembantunya, Mbak Ning. Cynthia yang masih kelas 4 SD sedang bermain-main boneka. Aku sangat menyukai anak kecil. Melihat Cynthia, aku jadi ingin bermain-main dengannya. Beralasan menunggu Tante Yeni pulang, aku kemudian meluangkan waktuku untuk bercakap-cakap dengan Mbak Ning dan bermain boneka dengan Cynthia.

Tak lama aku mulai akrab dengan Mbak Ning dan Cynthia. Mbak Ning ini, biar pun pembantu rumah tangga, tetapi sikap dan cara berpikirnya tidak seperti gadis desa. Dia cukup cerdas dan bagiku, hanya kemiskinanlah yang membuatnya harus rela menjadi pembantu. Seharusnya dia bisa menjadi lebih dari itu dengan kecerdasannya.

Setelah hampir satu jam aku di sana, Tante Yeni pulang. Kulihat dia agak heran melihatku bermain-main dengan Cynthia dan mengobrol santai dengan Mbak Ning.

“Kamu bisa akrab juga dengan Cynthia.. Padahal si Cynthia ini agak sulit berinteraksi lho dengan orang baru..” sapa Tante Yeni ramah. Harum tubuhnya membuatnya terlihat semakin cantik.

“Iya nih.. Mungkin Cynthia suka dengan Om Boy yang lucu.. Ya kan Cynthia?” candaku sambil mengusap kepala Cynthia. Gadis kecil itu tersenyum manis.

“Kau bawa programnya ya? Ada petunjuk pemakaiannya kan?”

“Ada dong. Tapi untuk mempercepat, sebaiknya aku menerangkan langsung pada karyawanmu, Cie.” Aku sengaja memanggil Tante Yeni dengan panggilan “Cie” karena dia masih terlihat sebagai wanita Chinese. Lagipula, panggilan “Cie” akan membuatnya merasa lebih muda.

Sejak hari itu, aku semakin akrab dengan keluarga Tante Yeni. Apalagi kemudian Tante Yeni memintaku untuk memberikan kursus privat komputer pada Edy dan Johan, dua anaknya yang masing-masing kelas duduk di kelas 1 SMP dan kelas 6 SD. Sedangkan untuk Cynthia, aku memberikan privat piano klasik. Karena rumahnya dekat, aku mau saja. Lagi pula Tante Yeni setuju membayarku tinggi.

Aku dan Tante Yeni sering ber-SMS ria, terutama kalau ada tebakan dan SMS lucu. Dimulai dari ketidaksengajaan, suatu kali aku bermaksud mengirim SMS ke Ria yang isinya, “Hai say.. Lg ngapain? I miz u. Pengen deh sayang-sayangan ama u lagi.. Aku pengen kita bercinta lagi..”

Karena waktu itu aku juga baru saja ber-SMS dengan Tante Yeni, refleks tanganku mengirimkan SMS itu ke Tante Yeni! Aku sama sekali belum sadar telah salah kirim sampai kemudian report di HP-ku datang: Delivered to Ms. Yeni! Astaga! Aku langsung memikirkan alasan jika Tante Yeni menanyakan SMS itu. Benar! Tak lama kemudian Tante Yeni membalas SMS salah sasaran itu. Baca selengkapnya!


Cerita Ngewe Susan Yang Menawan dan Sange 2

Cerita Ngewe Susan Yang Menawan dan Sange 2

   Iklans.com - Untuk lebih mengakrabkan hubungan kerja di kantor, teman-teman kantor

mengadakan acara pergi bersama ke tempat santai, yaitu di daerah pegunungan yang berhawa

dingin. Semua teman-teman kantor pada ikut, tidak terkecuali Dia.

Namun aturannya, bahwa semua karyawan dan karyawati harus ikut dan tidak

boleh bawa pacar, biar lebih bebas (pada saat itu kami semua belum berkeluarga,

kecuali Dia tentunya). Hanya Dia saja yang diperkecualikan untuk

membawa keluarga (dalam hati aku sangat kecewa, karena tidak bisa bebas

mendekati Dia, karena takut ada suaminya).

Pada hari Jum’at sore, setelah selesai tutup kantor, kita semua sudah berkumpul

di kantor untuk berangkat ke Puncak. Semua yang berangkat ada 17 orang

cowok-cewek termasuk aku, dan Dia bersama suaminya dengan membawa

2 anak kecil, yang ternyata keponakan Dia. Dalam hatiku kejengkelan

bertumpuk, karena Dia sudah bawa suami, tambah keponakan lagi, wuaahh

repot, pikirku saat itu. Untuk membawa ke Puncak, sudah dipersiapkan tiga mobil Panther yang dipakai

oleh karyawan dan satu Kijang yang dipakai oleh keluarga Dia, masing-masing

mobil sudah disediakan supir.

“Kalau 3 mobil nggak cukup, satu orang boleh dech ikut saya, atau biar Dik Uki saja yang ikut mobil saya”, kata Dia kepada teman-teman, matanya sambil melihatku.

“Cerdik juga boss yang satu ini”, pikirku, dan sangat halus sekali triknya.

Agar Dia tetap dekat denganku, tapi tidak terlalu mencolok, makanya pura-pura menawarkan tetapi langsung

menutup penawaran kepadaku.

“Ayo siapa yang ikut mobil Dia, biar aku yang di Panther aja”, kataku pura-pura menawarkan kepada teman-teman, karena

aku tahu, pada tidak ada yang berani satu mobil dengan Dia, rata-rata

mereka pada sungkan.

“Udah dech, biar Uki aja yang ikut, sekali-kali kita kerjain, biar tahu rasa, gimana rasanya satu mobil dengan Dia, mungkin sampai di tempatnya UKi sudah tegang nggak bisa bergerak”, kata Nancy temanku

sambil tertawa kecil mau mengerjai aku.

“Ya bener, sampai di tempat aku bisa tegang, tapi bukan tegang karena sungkan, tapi tegang karena nggak

tahan aja berdekatan dengan Dia”, kataku dalam hati, dan yang tegang

hanya tertentu saja, tidak seluruh badan.

“Jangan aku dong, yang cewek aja”, pintaku berpura-pura.

Tapi teman-temanku langsung lari berebut mobil masing-masing, an akhirnya aku jalan juga ke mobil Dia, dan sekali lagi pura-pura mengumpat mereka.

Suami Dia hanya senyum-senyum melihat kelakuan kami. Oh ya, aku belum

kenalin sama suami Dia. Namanya sebut saja Pak Jimmy, orangnya besar,

gagah dan ganteng (kata teman-teman cewek) dan agak pendiam. Wajahnya mirip

dengan Rudi Salam. Pak Jimmy duduk di jok depan dengan supir. Sedangkan Dia, kedua keponakan

yang masih kecil dan aku duduk di jok tengah. Jok belakang penuh dengan

perbekalan. Begitu aku duduk di mobil, pertama yang kulakukan adalah

mempelajari situasi mobil. Posisi kaca spion, dan posisi duduk supir dan posisi duduk

Pak Jimmy. Sekiranya memungkinkan untuk melakukan serangan awal terhadap Dia. Baca selengkapnya!


Cerita Ngentot Susan Yang Menawan dan Montok 1

Cerita Ngentot Susan Yang Menawan dan Montok 1

   Biodataviral.com - Kehidupan itu ada pasang surutnya, ketika saya sedang jaya, saya mempunyai client yang lumayan banyak untuk ukuran AE pemula di sebuah advertising.

Dan dengan ketekunan saya, perusahaan tempat saya bekerja mengalami kemajuan

pesat hingga mencapai Top 5 billing di semua stasiun TV. Dan kemudian bencana datang, Perusahaan tersebut bangkrut karena miss management.

Ditengah kesusahan datanglah tawaran dari Nancy, junior saya yang telah

pindah ke Gokil Advertising, dan mengenalkan saya dengan Ibu Susan, pemilik

perusahaan tersebut. Ibu Susan dipertengahan abad usianya, masih mempunyai tubuh yang terawat

dengan baik, body-nya tidak kalah dengan gadis-gadis yang masih muda yang

menjadi anak buahnya di Gokil Advertising.

Karena prestasi kerja saya yang baik, kami sering mengadakan meeting after

hours, dan progress kerja saya yang baik, membuat kami cukup akrab..tapi

pada suatu malam ada kejadian yang benar-benar mengubah hidup saya! Begini

anak-anak ceritanya..

Suatu malam, ketika karyawan lain telah pulang, Saya tengah memaparkarkan pendekatan saya terhadap satu perusahaan rokok

terkemuka, dan kemudian tiba-tiba Ibu Susan berkata,

“Waduh, kog punggungku gatal ya?”

Saya masih berusaha menahan diri untuk tidak terlalu cepat menolongnya,

takut nanti dianggap kurang ajar!

Semakin lama gatalnya sepertinya semakin bertambah,

“Tolong Dik Uki, bisa garuki punggung Ibu?”

Saya mengangguk dan berusaha membuang pikiran kotor saya, yang ingin sekali

rasanya mengetahui lebih dalam bentuk tubuh boss yang cantik dan keturunan

bangsawan ini..

Saya garuk pelan-pelan, tapi lebih tepatnya hanya mengusap-usap punggungnya

saja, takut kalau Ibu Susan kesakitan.

“Dik Uki, agak keras dikit, masih gatal lho Dik”, pinta Ibu Susan.

Dan saya agak sedikit memantapkan tangan saya dipungungnya.

“Dik Uki, masih belum terasa, sebentar saya buka dulu blazer saya.”

Dia langsung membuka blazernya, sehingga tinggalblouse-nya yang putih

dan transparan. Waduh semakin tidak tahan nih saya, karena kulit tengkuknya

yang mulus dengan sedikit rambut lembut yang tergerai di tengkuknya (Dia kalau ke kantor

selalu rambutnya disanggul di atas), semakin menambah feminin, dan semakin

membikin saya langsung terangsang.

Saya menggaruknya tetap tidak mau keras dan masih cenderung mengusap atau

membelai punggungnya, karena saya menikmati kehalusan kulit seorang bangsawan

yang berada dibalik bajunya yang tipis. Saya usap seluruh punggungnya dengan

pelan, ke atas dan ke bawah, ke kiri dan ke kanan, terkadang tangan saya,

saya telusupkan di bawah ketiaknya, untuk menggapai payudara yang di depan.

Dia menengadahkan kepalanya, dan menggeleng-gelengkan kepalanya ke

kiri dan ke kanan, sambil suaranya mendesah,

“Uuhh enak Dik Uki.. enaakk..uuhh..”

Mendengar desahannya yang merangsang, rudalku langsung tegak bak tugu Monas. Baca selengkapnya!


Viral! Istriku di Genjot Anak Jalanan

Viral! Istriku di Genjot Anak Jalanan

  Aopok.com - Iding adalah sosok anak jalanan Ibukota. Remaja yatim piatu yang berusia 19 tahun itu sudah 3 tahun mengadu nasib di Jakarta. Dia merantau ke Ibukota, setelah kedua orangtuanya meninggal akibat wabah muntaber yang melanda desa Cikunir, Kabupaten Lebak. Dalam usianya yang relatif muda itu, Iding sudah tahu banyak tentang sex. Ketika tiba di Ibukota, dia terdampar di lokalisasi WTS Bongkaran.



Di sana dia ditampung oleh seorang mucikari untuk membantu membelikan rokok atau makanan dan minuman untuk para tamu, membersihkan kamar-kamar dan mencuci sprei. Pengalaman sexnya yang pertama adalah ketika salah satu wanita pekerja sex komersial di tempat itu iseng menghisap perangkat birahinya yang mungil, lalu mereguk air maninya yang masih segar kental kekuningan sebagai jamu awet muda. Iding tidak bisa melupakan kenikmatan dahsyat yang dialaminya pada usia 13 tahun itu. Sejak itu dia berusaha merasakan kenikmatan itu dengan segala cara.

Tapi ketika dia meminta para wanita penghibur yang lebih tua itu memberikannya kenikmatan itu, dia malah ditertawakan. Merasa kecewa dan sakit hati, maka dia membujuk bahkan adakalanya memaksa para anak laki-laki yang lebih kecil di sekitarnya untuk memuaskan nafsu birahinya yang menggebu. Kadang-kadang dengan imbalan jajan bakso, uang Rp 200 atau permen. Selama 3 tahun terakhir ini, sedikitnya 3 hari sekali dia melampiaskan nafsunya itu. Dia mencoba berbagai cara untuk mencapai puncak kenikmatan birahinya, misalnya dengan menjepitkan perangkat birahinya di selangkangan teman mainnya, memasukkan batang kejantanannya ke lubang dubur temannya kemudian memompanya atau sekedar saling mengocok batang kejantanan satu sama lain.

Rasa dendamnya akibat ditolak saat ingin “bersedap-sedap” dengan wanita penghibur di Bongkaran 3 tahun lalu, membuatnya sama sekali tidak berminat untuk berhubungan sex dengan lawan jenisnya. Lagipula, anak laki-laki yang lebih kecil selalu menuruti kemauannya. Untuk bertahan hidup di Ibukota, Iding berjualan koran di pagi dan sore hari. Dia biasa beroperasi di Stasiun Senen. Dengan penghasilan kotor sekitar Rp 300.000 sebulan, dia bisa menyewa pondokan (sebuah kamar berukuran 1,5 x 2 meter) di kawasan kumuh di sepanjang rel kereta api di daerah Tanah Tinggi. Kamar itu sangat sederhana, berdinding triplex, berjendela kawat, beratap seng dan lantai semen.



Tapi dengan sewa Rp 50.000, lumayanlah sekedar tempat berteduh. Perabot di kamar itu hanya sehelai tikar usang, kapstok yang dipaku di pintu, sebuah cermin, sebuah lampu teplok, sebuah kotak karton tempat menyimpan pakaian dan sebuah kaleng berisi sikat gigi, pasta gigi dan sabun mandi.

Sore itu, seperti biasanya, Iding berjualan koran di peron Stasiun Senen Dia merasa gelisah. Perangkat birahinya terasa gatal, siap bertarung. Sudah 3 hari dia tak mengadu perangkat birahinya. Dia mulai bosan bertarung dengan teman yang itu-itu saja. Dia ingin melakukan permainan yang lebih asyik dan menggairahkan dengan pasangan main yang baru. Tiba-tiba dilihatnya Nday, anak gelandangan berusia sekitar 19 tahun, yang biasa mengemis di stasiun. Selama ini dia tak terlalu peduli pada anak kecil itu. Lanjut baca!


Viral! Istriku Beri Lendir Memek Ke Anak Manja Tetangga

Viral! Istriku Beri Lendir Memek Ke Anak Manja Tetangga

  Tradingan.com - “Jii..Ajii..kesini sebentar!” itu suara Dino, aku memanggilnya Mas Dino, anak majikanku.

Usianya sama denganku, kami sama-sama masih duduk di kelas 2 SMU. Aku segera bergegas memenuhi panggilannya, soalnya anak ini rada-rada manja. Kalau dia ngambek gara-gara aku terlambat memenuhi panggilannya, bisa berabe. Aku bakalan kena omelan Nyonya seharian.


“Ya, sebentar Mas,” jawabku, kuletakkan buku Matematika yang sedang kubaca.
“Perasaan bukan cuman dia doang yang ujian, aku juga ujian besok,” sungutku dalam hati.
Pasti anak manja ini bakalan minta aku ajarin matematika lagi. Jujur aja, males aku kalo harus ngajar dia. Dibilang bego, bisa berabe, cuman kalo diajarin emang gak bisa ngerti-ngerti dia. Aku gak tahu apa yang ada dikepalanya. Ngerepotin aku aja nih. Sambil bersungut aku berjalan cepat menaiki tangga rumah besar milik Tuan Arifin Wijaya, majikanku, kamar Dino ada di lantai dua rumah itu.

Majikanku sebenarnya orang baik. Buktinya aku disekolahkan olehnya. Memang sih bukan sekolah bonafit seperti sekolah Mas Dino. Tapi dibiayai sekolah saja olehnya, aku sudah cukup senang. Soalnya ketika dibawa dari kampung, aku tak pernah punya fikiran Tuan Arifin Wijaya seorang pengusaha tionghoa yang cukup sukses di medan dan istrinya yang asli sunda itu bakalan menyekolahkan aku. Paling aku hanya akan dijadikan tukang kebun di rumah gedung miliknya yang sekarang aku tinggali ini. Makanya aku sangat tidak enak hati kalau Nyonya Wijaya kesal padaku hanya gara-gara anak bungsunya yang manja ini.

“Tok..tok..tok.., ” tanganku mengetuk pintu kamar Mas Dino pelan sebelum pintu kamar itu kubuka. Kemudian aku berdiri di pintu kamarnya yang luas dan dipenuhi dengan berbagai poster tokoh komik seperti spiderman, superman, batman itu. Nih anak badannya aja yang gede, tapi masih aja demen ama komik, kataku dalam hati. Dan seperti biasa aku disambut dengan omelannya yang sama dan sebangun setiap kali aku dipanggilnya,
“Lama banget sih lo,”
“Maaf Mas Dino, aku tadi lagi konsentrasi baca buku Matematika, kan besok ujian, saking konsennya baca buku, panggilan Mas Dino agak sayup-sayup ku dengar,” jawabku membela diri.
“Alasan lo,” katanya tanpa perlu memandangku, matanya tak lepas dari layar komputer yang ada didepannya.
Lo, aku pikir dia lagi belajar, tak tahunya sedang asik main komputer anak manja ini. Lalu untuk apa aku dipanggilnya.
“Ada apa Mas, kok aku dipanggil?” tanyaku.
“Kapan Papi sama Mami balik dari Hongkong?” pertanyaanku tak dijawabnya, malah dia menyampaikan pertanyaan kepadaku.
“Bukannya masih seminggu lagi Mas,” jawabku, masih berdiri di pintu kamarnya.
“Hmm,” gumamnya. “Masuk sini! Tutup pintunya!” katanya.



Aku masuk lalu menuju meja belajarnya yang bulat dan berkaki rendah itu. Biasanya juga kalau ke kamarnya aku langsung menuju ke meja itu. Mataku tidak berani melirik monitor komputer, soalnya pernah sekali aku melirik monitor dan disana terpampang tubuh bugil indah milik Pamela Anderson. Aku malu sekali waktu itu, wajahku merah, sementara dia ngeledek aku karena malu ngelihat gambar begituan. Akhirnya kami tidak jadi belajar waktu itu, karena konsentrasiku benar-benar hilang gara-gara melihat gambar itu. Penisku ngaceng sejadi-jadinya waktu itu.

Ketika aku baru saja lesehan menghadap ke meja itu, tiba-tiba dia memanggilku,
“Sini Ji,” katanya. “Gua mo nunjukin lo gambar bagus,”katanya.
“Enggak usah mas,” jawabku pelan.
Tapi dia membalas jawabanku dengan suara keras, Lanjut baca!


Viral Bertukar Lendir Anal Istri, Aku dan Andre 2

Viral Bertukar Lendir Anal Istri, Aku dan Andre 2

  Biodataviral.com - Tak lama kemudian, ia dekap badanku erat ke badannya yang masih tertutup t-shirt putih dan CD-nya yang menutupi kemaluannya yang berukuran sedang itu. Lalu dia mulai menatap ke mataku kembali dan kami saling berpandang mata, perlahan tapi pasti akhirnya aku duluan yang mencium bibirnya dengan perlahan, kukecup bibir bawahnya sambil kukulum perlahan dan dia pun memainkan lidahnya perlahan, dan terasa tangannya mulai membuka kancing celanaku dan pada saat yang bersamaan celanaku dijulurkan ke bawah sehingga tinggal CD-ku yang berwarna biru tua dan terlihat kepala kemaluanku dengan ukuran sedang sedikit terlihat keluar dari ujung CD-ku.


“Bob.. aku suka sama kamu!”
“Gombal,” jawabku.
Lalu kulepaskan pelukan dan menurunkan CD-ku untuk terus masuk ke kamar mandi dan membasuh seluruh tubuhku dengan air dingin, dan tak lama kemudian Andre pun masuk dalam keadaan bugil ke kamar mandi dan kami pun mandi bersama tanpa melakukan adegan seks terkecuali sesekali berciuman di bawah shower air dingin sambil menjulurkan lidahku sesaat ia menciumi leherku. Selang 2 menit, Andre selesai melakukan bilasnya dan segera keluar dari kamar mandi setelah mengeringkan badannya yang bertubuh atletis berwarna coklat mengkilap. Tak lama kemudian aku pun selesai membilas tubuhku dan mengeringkan sambil berkaca di hadapan kaca kamar mandi yang berukuran sekitar 2 meter.

Pada saat aku keluar dari pintu kamar mandi menuju ruang tidurnya yang masih bernyalakan lampu terang, kulihat Andre dengan sekujur tubuhnya yang atletis serta kemaluannya yang sudah ereksi telah berbaring sambil kedua tangannya berada di belakang kepalanya, berkata, “Sini Bob, tiduran yuk!” Lagu blues pun masih mengalun di ruang kamar tidur Andre dan aku bertanya kepadanya,
“Mas, apa punya cassette gamelan Jogja?”
“Hah! kenapa Bob? Kok gamelan? Apa maksudnya?””Coba deh Mas pasang musik gamelan, ada nggak?!”
Ternyata Andre memiliki sejumlah cassette gamelan yang mana aku sangat menyukai gamelan pada saat suasana malam hari terutama bila sedang melakukan adegan cinta.
“Mas.. coba deh nikmati gamelan sambil..” sambil aku tersenyum nakal.
Lalu suasana pun berubah dengan alunan bunyi musik gamelan yang terdengar sayup-sayup. Lampu besar pun dimatikan diganti dengan lampu yang redup tapi cukup terang sambil jendela dibuka hordennya, dan tak lama kemudian hujan gerimis pun tiba-tiba turun serasa udara di luar ikut menyambut ritual kami pada saat itu.

Dalam keadaan bugil dan keadaan kemaluanku pun dalam keadaan tegang dan keras, aku mulai menaiki ranjang dan perlahan dalam posisi seperti doggy style mendaratkan bibirku pada pipi Andre. Bibirku mulai berjalan di atas pipi Andre lalu menciumi lehernya yang beraroma pria dewasa sambil menjilat-jilat dari bagian belakang hingga ke bagian depan lehernya. Tiba-tiba kedua tangannya memeluk leherku dan tubuhku yang kecil terjatuh dalam dekapannya. Tanpa mengurangi waktu yang ada, aku mulai menciumi bagian telinganya sambil mengeluarkan lidahku perlahan di telinganya. 



Tampak wajah Mas Andre mulai meringis sedikit dan terdengar suara lirih, “Uhh..” dan aku mulai mengeluarkan lidah setengah lebih panjang sambil menjilati telinga kanannya. Pelukan hangat dan erat dari Andre seakan membuat birahiku lebih tinggi dan kedua tanganku juga memeluk erat leher Mas Andre dan sesaat bibirku sudah menghinggapi pipi kanan darinya dan perlahan kukecup dengan halus bibirnya yang tebal sambil membuka mata menatap matanya yang terbuka besar memandang mataku. Tanpa berkata apa-apa, aku mulai kembali menciumi pipi kirinya sambil menjulurkan lidahku menjalar ke arah telinga kiri Andre, lalu kukecup perlahan telinganya dan ia pun mulai meringis, “Uhh..” sambil setengah matanya tertutup dan bibirnya ternganga menikmati hasil jilatan dan kecupanku di telinganya. Lanjut baca!


Viral Bertukar Lendir Anal Istri, Aku dan Andre 1

Viral Bertukar Lendir Anal Istri, Aku dan Andre 1

  Aopok.com - Andre adalah nama yang kukenal melalui telepon yang diperkenalkan oleh temanku. Suaranya serak dan tegas. Dari pengakuannya dia adalah seorang manager muda di sebuah perusahaan kontraktor minyak asing yang berusia 28 tahun. Saat itu aku masih berumur 23 tahun dengan perawakan biasa 170-an dan agak kurus dan tidak membaur dengan kaum gay kecuali dengan 3 orang temanku yang bisex seperti juga diriku dan masing-masing kami masih tertutup.


Setelah 3 kali berhubungan telepon, Andre mengajak untuk bertemu dan sekaligus kencan, katanya di telepon. Akhirnya tepat pukul 21:00 aku datang sesuai janji di lobby hotel Hilton. Aku duduk dan menunggunya di dekat “Kudus Bar”, tak lama kemudian sesosok pria dengan perawakan tinggi tegap berkulit coklat tua datang dan langsung menyapa, “Bobby ya?” aku tersenyum dan langsung menyalami genggaman tangannya yang cukup besar. Aku tidak banyak bicara kecuali senyum dan agak canggung, ada rasa khawatir akan lingkungan saat itu, takut-takut kalau ada yang kenal dan mencurigaiku pada saat itu.

Tak lama kemudian Andre pun menawarkan minum, “Mau minum apa Bob?” tanyanya, “Tomato juice aja Mas?” Akhirnya dia memesan 1 tomato juice dan 1 gelas chivas on the rock untuk dirinya. Kami berdua hanya berpandang-pandangan lalu tersenyum dan kadang dia menatap seperti seorang yang sedang lapar akan seks. Namun aku tetap saja acuh tak acuh sesekali tersenyum dan seolah-olah kagum atas pandangannya. Tak lama kemudian Andre mengajakku jalan keluar dari Hilton dengan mengendarai “CJ-7”-nya menuju sebuah restoran. Di perjalanan kami berdua tidak banyak bicara hanya kadang kedua mata kami saling berpandangan dan kadang dia mengelus rambutku.

Akhirnya kami sampai juga, dan ternyata tidak begitu banyak pendatang pada malam itu, kami duduk berdua dan mulai bercerita dari A-Z. Dan kadang Andre menatap dengan mata binalnya sambil menggigit lidahnya ke arahku, dan aku pun membalasnya dengan membuat congorku seperti kerbau dan dia pun tertawa. Tanpa kami sadari, waktu telah menunjukkan pukul 23:30 dan akhirnya kami pun beranjak. Di tengah jalan aku katakan padanya,
“Mas, kalau tidak keberatan aku diantar ke rumah temen bisa?”
“Bob, kamu kan kencan sama aku, jadi kamu harus sama aku! kita ke rumah Mas aja ngobrol-ngobrol di sana sambil dengerin musik aja,” katanya, sambil rambut kepalaku di elus-elusnya dan aku katakan padanya,




“Mas dulu tamatan institut pencari ketombe ya? dari tadi ngelus-ngelus rambut aja,” dia pun tersenyum sambil mencubit pipiku.
Akhirnya aku setuju saja asalkan diantar pulang ke rumah nantinya. Di perjalanan dia bercerita kalau dia saat ini belum ada pacar yang cocok, itu karena dia mencari yang cocok dan tertutup serta sedikit binal di ranjang dan dia pun mengakui bahwa dirinya nakal dan sering bosan terkecuali ada pendamping yang cocok dan tidak munafik di ranjang.

Lewat sudah pukul 12:00 dan akhirnya kami tiba di rumahnya yang mungil tapi asri di kawasan Pondok Indah, tidak ada siapa-siapa di rumahnya karena pembantu sedang “off” katanya. Aku tertegun melihat suasana rumahnya, ternyata dia mempunyai beberapa kesamaan dengan diriku, Lanjut baca!


ad2

Chord dan Lirik

Explore Indonesia